A.
Dinasti
Bani Umayah
Pengertian kata Bani
menurut bahasa berarti anak, anak cucu atau keturunan. Dengan demikian yang
dimaksud Bani Umayah adalah anak, anak cucu atau keturunan Bani Umayah bin Abdu
Syams dari satu keluarga. Kata Dinasti berarti keturunan
raja-raja yang memerintah dan semuanya berasal dari satu keturunan. Dengan
demikian, Dinasti Umayah adalah keturunan raja-raja yang
memerintah yang berasal dari Bani Umayah.
Adapun istilah lain yang sering
digunakan adalah kata Daulah, yang berarti kekuasaan,
pemerintahan, atau negara. Dengan kata lain, Daulah Bani Umayah adalah negara
yang diperintah oleh Dinasti Umayah yang raja-rajanya berasal dari Bani Umayah.
Dinasti
Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 41H/661 M di
Damaskus dan berlangsung hingga pada tahun 132 H/750 M. Muawiyah bin Abu
Shofyan adalah seorang politisi handal di mana pengalaman politiknya sebagai
Gubernur Syam pada zaman Khalifah Ustman bin Affan cukup mengantarkan dirinya
mampu mengambil alih kekusaan dari genggaman keluarga Ali Bin Abi Thalib.
Tepatnya setelah Hasan bin Ali menyerahkan kursi kekhalifahan secara resmi
kepada Muawiyah bin Abu Sofyan dalam peristiwa Ammul Jama’ah.
Oleh karena itu Muawiyah
bin Abu Sofyan dinyatakan sebagai pendiri Dinasti Bani Umayah. Dilihat dari
sejarahnya Bani Umayah memang begitu kental dengan kekuasaannya, terutama pada
masa zaman jahiliyah. Dalam setiap persaingan, ternyata Bani Umayah selalu
lebih unggul dibandingkan keluarga Bani Hasyim. Hal ini disebabkan Bani Umayah memiliki
unsur-unsur sebagai berikut:
1.
Umayah berasal dari
keturunan keluarga bangsawan
2.
Umayah memiliki harta
yang cukup
3.
Umayah memiliki 10 anak
yang terhormat dan menjadi pemimpin di masyarakat, di antaranya Harb, Sufyan,
dan Abu Sufyan.
Sebagaimana yang
disebut-sebut dalam sejarah, bahwa Abu Sofyan merupakan pemimpin pasukan
Quraisy melawan Nabi Muhammad SAW pada Perang Badar Kubra.
Keluarga Bani Umayah
masuk Islam ketika terjadi Fathul Makkah pada tahun ke-8 H. Abu
Sofyan diberi kehormatan untuk mengumumkan pengamanan Nabi SAW, yang salah
satunya adalah barang siapa masuk ke dalam rumahnya maka amanlah dia, masuk
kedalam Masjidil Haram dan rumahnya Nabi SAW maka dia juga akan merasa aman.
Dengan ini banyak kaum dari kalangan Bani Umayah yang berduyun-duyun untuk
masuk Islam dan menyebarkan Islam keberbagai wilayah.
B.
Silsilah Keluarga Bani Umayah
Secara geneologis (garis
keturunan) Muawiyah bin Abi Sofyan bertemu dengan silsilah keluarga Nabi
Muhammad SAW pada Abdul Manaf. Keluarga Nabi Muhammad SAW dikenal dengan
sebutan Bani Hasyim, sedangkan keluarga Umayah disebut dengan Bani Umayyah.
Berikut ini adalah
silsilah Bani Umayyah, yang menunjukkan hubungan kekerabatan antara Keluarga
Bani Umayah dengan Bani Hasyim (keluarga Nabi Muhammad SAW.)
C. Nama-nama Khalifah Dinasti Bani
Umayah
Nama-nama kholifah Bani
Umayah yang berkuasa selama kurang lebih 91 tahun, terdiri dari empat belas
khalifah, yaitu:
1.
Muawiyah bin Abi Sofyan
(41-60 H/661-680 M)
2.
Yazid bin Muawiyah
(60-64 H/680-683 M)
3.
Muawiyah bin Yazid
(64-64H/683-683 M)
4.
Marwan bin Hakam (64-65
H/683-685 M)
5.
Abdul Malik bin Marwan
(65-86 H/685-705 M)
6.
Al-Walid bin Abdul Malik
(86-96 H/705-715 M)
7.
Sulaiman bin Abdul Malik
(96-99 H/715-716 M)
8.
Umar bin Abdul Aziz
(99-101 H/716-720 M)
9.
Yazid bin Abdul Malik
(101-105 H/720-724 M)
10. Hisyam bin Abdul Malik
(105-125 H/ 724-743 M)
11. Walid bin Yazid (125-126
H/743-744 M)
12. Yazid bin Walid (126-127
H/744-744 M)
13. Ibrahim bin Walid
(127-127 H/ 744-745 M)
14. Marwan bin Muhammad
(127-132 H/745-750 M)
Di antara 14 orang
khalifah Bani Umayah yang berkuasa selama lebih kurang 90 tahun, terdapat
beberapa orang khalifah yang dianggap berhasil dalam menjalankan roda
pemerintahan. Adapun nama-nama khalifah Bani Umayah yang menonjol karena
prestasinya adalah:
1.
Khalifah Muawiyah bin
Abu Sofyan
2.
Khalifah Abdul Malik bin
Marwan
3.
Khalifah Al-Walid bin
Abdul Malik
4.
Khalifah Umar bin Abdul
Aziz
5.
Khalifah Hisyam bin
Abdul Malik
D. Biografi Muawiyah bin Abu Sofyan
Muawiyah bin Abu Sofyan
dilahirkan sekitar 15 tahun sebelum hijriah, dan masuk Islam pada saat
penaklukkan kota Makkah bersama-sama penduduk kota Mekkah lainnya. Setelah
masuk Islam, Nabi Muhammad mengangkatnya sebagai anggota siding dari penulis
wahyu.
Dalam perjalanan sejarah
hidupnya, ia diangkat sebagai gubernur Syam pada masa Khalifah Utsman bin
Affan. Dari sinilah karier politik Muawiyah bin Abu Sofyan di mulai. Setelah
kemenangannya dalam peristiwa “Tahkim Daumatul Jandal” dan proses perdamaian
yang dilakukan Hasan bin Ali dalam peristiwa “Ammul Jama’ah” mengantarkan
Muawiyah bin Abu Sofyan menjadi khalifah dalam pemerintahan Islam.
Adapun langkah pertama
yang dilakukannya adalah memindahkan ibu kota pemerintahan Islam dari Madinah
ke kota Damaskus di wilayah Suriah. Disamping itu ia juga mengatur tentara
dengan cara baru dengan meniru aturan yang ditetapkan oleh tentara di
Bizantium, membangun administrasi pemerintahan dan juga menetapkan aturan
kiriman pos. Muawiyah meninggal Dunia dalam usia 80 tahun dan dimakamkan di
Damaskus di pemakaman Bab Al-Shagier.
Sistem kepemimpinan yang
dibangun oleh Muawiyah bin Abi Sofyan adalah menggunakan sistem kerajaan, atau
Monarchi Absolute yaitu sistem pemerintahan yang mewariskan kekuasaan secara
turun temurun. Terbukti Mu’awiyah bin Abi Sofyan mengangkat Yazid bin Muawiyah
(anak kandung Muawiyah) untuk menjadi putra mahkota, atas saran Mughiroh bin
Syu’bah agar terhindar dari pergolakan politik intern umat Islam.
Gaya kepemimpinan yang
digunakan oleh Muawiyah bin Abi Sofyan sangat bertolak belakang dengan sistem
kepemimpinan pada masa Khulafaurrosyidin. Pada masa ini sistem kepemerintahan
yang digunakan adalah sistem demokrasi, yaitu sistem pemerintahan yang
berazaskan musyawarah dalam mengambil keputusan dan pemilihan pemimpin
dilakukan oleh rakyat.
Selain perubahan sistem
pemerintahan juga terdapat sistem perubahan yang lain, seperti Baitul Mal. Pada
masa Khulafaurrosidin Baitul Mal ini berfungsi sebagai harta kekayaan rakyat,
dimana setiap warga negara memiliki hak yang sama terhadap harta tersebut. Akan
tetapi berbeda dengan masa Muawiyah yang mana Baitul Mal ini beralih kedudukan
menjadi harta kekayaan keluarga raja.
Diantara kebijakan yang
dilakukan oleh Muawiyah dalam masa pemerintahannya, adalah :
1.
Pembentukan Diwanul
Hijabah, yaitu sebuah lembaga yang bertugas memberikan pengawalan
kepada kholifah
2.
Pembentukan departemen
pencatatan atau Diwanul Khatam, yaitu lembaga yang bertugas untuk
mencatat semua peraturan yang dikeluarkan oleh kholifah di dalam berita acara
pemerintahan
3.
Pembentukan Dinas pos
atau Diwanul Barid,yaitu departemen pos dan transportasi, yang
bertugas menjaga pos-pos perjalanan dan menyediakan kuda sebagai alat
transportasi.
4.
Pembentukan Shohibul
Kharraj (pemungut pajak)
Selain hal-hal yang
disebutkan di atas, masih banyak lagi usaha-usaha yang dilakukan oleh Muawiyah
bin Abu Sofyan selama pemerintahannya.
0 komentar:
Posting Komentar